Megumi Nishi, Perempuan Jepang yang Saya Kenal

Suatu siang yang sejuk dan santai di musim gugur tahun 2014. Saya datang ke apartemen Megumi Nishi di daerah Takano, Kyoto. Sekedar meminjam buku dan berbincang. Perempuan yang belum genap 30 tahun ini buru-buru merapikan apartemennya ketika saya datang. Dia minta maaf karena masih berantakan. Hmm, padahal apartemen saya lebih berantakan. Sambil menunggu Megumi membuatkan ocha – teh, saya bermain dengan putri Megumi, Hanaka.
image
Sahabat-sahabat saya di Kyoto: (ki-ka) Fumie Kawasaki, saya, Megumi Nishi

Megumi Nishi adalah sahabat saya selama dua tahun ini di Kyoto. Maklum, anak kami sekolahnya sama dari TK sampai SD. Megumi Sorimachi (nama keluarga sebelum menikah) berasal dari Nagano, daerah yang dijuluki Alpen-nya Jepang. Dia meraih gelar sarjana hukum di salah satu universitas swasta di Tokyo. Alih-alih jadi pengacara, Megumi memilih menikah dengan Makoto Nishi. Mereka bertemu saat Megumi masih SMP dan Makoto sudah menjadi peneliti di Kementerian Luar Negeri Jepang di Ethiopia. Kini, Megumi dan Makoto dikarunia tiga anak: Keita (7 tahun), Tomoki (6 tahun), dan Hanaka (2 tahun).

Keputusan untuk menikah langsung setelah lulus kuliah seperti Megumi bukan sesuatu yang populer di Jepang. Kebanyakan perempuan memilih bekerja dulu hingga usia tiga puluhan. Baru setelah itu menikah dan menjadi ibu rumah tangga, begitu yang saya dengar saat berbincang dengan mama-mama Jepang. Namun ternyata menjadikan ibu rumah tangga sebagai “karier utama”-nya tidak menghalangi Megumi untuk beraktualisasi.

Tahun 2010, Megumi bersepakat dengan kawannya, Makiko Maura, untuk membuat situs www.jafore.blogspot.jp. Situs ini bertujuan membantu keluarga orang asing yang tinggal di Kyoto. Di situs ini, tersedia berbagai informasi seperti taman bermain anak, jadwal pasar loak, jasa terjemahan gratis, dsb. Dan informasinya DALAM BAHASA INGGRIS. Hehe, pakai dikasih huruf besar, ya. Soalnya memang jarang, sih, informasi tentang kehidupan di Kyoto dalam bahasa selain Jepang. Rupanya, pengalaman hidup di Ethiopia menjadikan Megumi berempati terhadap kesulitan orang asing di Jepang. Oya, nama JAFORE juga diambil dari bahasa Ethiopia.

Tak puas dengan situs internet, Megumi mengembangkan JAFORE. Kali ini dibantu Miki Okamoto, Fumie Kawasaki, Honami, Airi Miyamoto, dan Kazuko Kitao. Februari 2011, mereka meluncurkan Multilingual Playgroup. Pertemuan ini mengundang orang tua yang tidak bisa berbahasa Jepang di Kyoto. Diadakan pada minggu kedua setiap bulannya, di aula Hokkori Heart, dekat Stasiun Demachiyanagi. Di sini, anak-anak bisa bermain sendiri (di aulanya banyak mainan) atau mendengar cerita dalam berbagai bahasa. Orang tua pun bisa saling berbagi cerita. Kebanyakan, sih, tentang suka duka sebagai orang asing di Jepang. Sebaliknya, para anggota JAFORE yang orang Jepang juga banyak memberi informasi. Misalnya, tentang sistem kesehatan dan pendidikan di Jepang, cara memakai kimono dan minum teh, dsb. Yang jelas, untuk orang asing seperti saya, infonya bermanfaat banget!

2014-12-04 18.27.38

 

Untuk lebih membantu orang asing, JAFORE membuat sebuah buku panduan. Isinya cukup lengkap, mulai dari terjemahan bahasa Jepang saat di dokter sampai di sekolah. Ini bentuknya:

2014-12-04 18.28.29

Sering juga, JAFORE keliling ke komunitas keluarga di Kyoto untuk memperkenalkan kebudayaan negara lain. Biasanya, sih, saya yang diajak Megumi buat cerita soal Indonesia. Kata Megumi, Kyoto memang punya visi untuk jadi kota multikultur. Dan pemerintah kotanya mendukung banget.

Karena keaktifannya membantu orang asing di Kyoto, JAFORE mendapat bantuan dana dari beberapa pihak, seperti dari Kyoto Bank, Kyoto International Community House, dan beberapa perusahaan. Nah, minggu lalu, liputan tentang JAFORE dan Megumi udah tayang di NHK! Keren, ya! Ini videonya:

 

Nah, tahun ini juga Megumi mendapat penghargaan sebagai finalis Kyoto Human Power Award. Dan dia satu-satunya perempuan dari enam finalis! Bukan itu satu-satunya prestasi Megumi. Tahun lalu dia meraih juara ketiga ajang bisnis untuk perempuan di Kyoto. Memang cita-citanya pengen jadi pengusaha, sih. Makanya waktu saya cerita tentang banyak ibu rumah tangga di Indonesia merangkap wiraswasta, dia senang banget.

megumi

Oh ya, Megumi bilang dia iri sama perempuan Indonesia. Habisnya saya cerita kalau di Indonesia, perempuan bisa kerja atau bebas berkarya karena ada dukungan komunitas (baca: ada asisten atau nyokap, hahaha). Lalu bagaimana kesannya tentang perempuan Indonesia? Kebetulan Megumi punya banyak teman mama-mama Indonesia di Kyoto. “Ramah banget. Gampang diajak berkomunikasi,” katanya, “Jadinya merasa gampang untuk kerja sama.” Aaw, jadi GR. 😀

Dengan segala pencapaiannya itu, Megumi merasa banyak didukung suaminya. Makoto Nishi kini associate professor di Universitas Kyoto. Tak jarang saya bertemu Makoto mengasuh anaknya di taman dekat rumah saat akhir pekan. Ssst, menurut Megumi, dia juga nggak seperti stereotip ibu rumah tangga Jepang. Dia bilang dia nggak suka bersih-bersih rumah, nggak terlalu disiplin sama anak, dan dia mengakui bahwa jadi ibu rumah tangga itu stressful. Ah, Megumi, that’s why I adore you! J

Pertemuan yang hangat hari itu ditutup dengan makan siang. “Maaf, ya, cuma soba,” kata Megumi, “Aku biasanya masak yang praktis aja”. Dia merebus mie ala Jepang itu sambil menggendong Hanaka yang mengantuk. Ya ampun, saya yang merasa bersalah, kok jadi numpang makan siang, ya, hehe. Terima kasih untuk hari ini, Megumi Nishi.

 

 

 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s