Refleksi Dua Tahun Tinggal di Kyoto  

Tepat dua tahun yang lalu, 2 November 2012, saya, Ayal, dan Ilham, menjejakkan kaki pertama kalinya di Jepang. Pagi yang teratur di Bandara Kansai menyambut kami yang tak sabar memulai hidup baru di negeri jauh. Setelah mengikuti berbagai prosedur imigrasi – paspor dicek, dibuatkan semacam kartu orang asing, dsb. – kami keluar dari pintu bandara. Abah, sudah menanti kami – dua bulan di Kyoto, dua jam di Bandara Kansai. Sejenak sebelum bertemu Abah, seorang kakek menyapa Ilham yang dikira anak Jepang. Tak lama kemudian, MK Taxi mengantar kami dalam perjalanan sekitar 2 jam ke Kyoto.

Dan selanjutnya, voila, begitulah kami sekeluarga menjalani hidup di Kyoto, ibukota Jepang di masa lampau. Abah menjalani hari-harinya sebagai mahasiswa doktoral di Universitas Doshisha, salah satu universitas swasta tertua dan terbaik di Jepang (baru tahu pas di sini, ternyata oke juga, sebelumnya nggak tahu, maklum kurang pengetahuan, hehe). Rutinitas suami tercinta adalah berangkat nggak tentu jam berapa, pulang malam, kencan di kantin atau Istana Kaisar tepat di seberang kampus. Targetnya lulus tiga tahun, konferensi di tahun awal, publikasi ilmiah cukup, syukur-syukur sempat nulis buku teks untuk mahasiswa. Hmm, he is such ambitious man, isn’t he? Alhamdulillah hampir semua targetnya tercapai. Bulan ini fokus mau submit 70% disertasi. Doakan saja, lah, semua lancar.

Anak-anak bersekolah di sekolah anak Jepang pada umumnya. Langsung ditentukan kantor kecamatan, Ayal masuk Sekolah Dasar Negeri Yotoku (Yotoku Shougakkou). Sekolah anak-anak tak jauh dari apartemen mungil kami. Ayal berjalan kaki selama kurang lebih lima menit ke sekolahnya. Rutinitasnya adalah berangkat sekitar jam 8.15 (sekolah mulai jam 8.40) dan pulang jam 5 sore.

11260421354_de90aeb460_o

11260697015_bf4cb261a8_oKe mana aja dia, Dora? Kan, sekolah selesai jam 14.50? Ternyata dia les tambahan – sekaligus mengejrjakan PR – di sekolah hampir setiap hari. Ditambah main sama teman-temannya. Alhamdulillah Ayal tak kesulitan beradaptasi dengan kultur yang berbeda. Apa si anak sembilan tahun ini benar-benar betah di Jepang? Nggak juga. Sampai sekarang pun mimpinya cuma cepat pulang ke Indonesia. Balik sekolah di SDIT Insan Mandiri, Pasar Minggu, sambil sering ketemu sepupu-sepunya di Pandeglang, Banten.

11267351384_861b7ce472_o

Berbeda dengan Ayal yang wajib belajar, Ilham harus mencari sendiri taman kanak-kanaknya. Dengan campur tangan takdir, Ilham jadi murid TK Outou (Outou Youchien), TK Kristen yang sangat menghormati kami sebagai muslim. TK ini begitu membekas di hati keluarga kami. Kepala sekolahnya yang pendeta, Jiro Sensei, setiap pagi menyambut murid-muridnya di gerbang sekolah. Biar terik, biar salju. Guru-gurunya bermain dulu dengan murid dari jam 9 sampai jam 10 pagi. Lalu “pelajaran” resmi dimulai jam 10. “Pelajaran” apa? Menyanyi, menggambar, keterampilan, memasak, dsb. Yang pasti tak ada calistung. Oya, walau TK Kristen, murid TK ini mayoritas non-Kristen (kan Kristen agama minoritas di Jepang). Khusus Ilham, malah dia nggak perlu ikut semua acara di gereja. Balik lagi soal Ilham, dia betah di sini, tapi sulit berteman. Sampai sekarang, pun, temannya tak banyak dan Ilham tak banyak bicara di sekolah. Sepertinya Ilham agak sulit beradaptasi dengan lingkungan baru. Bagusnya, pelariannya ke menggambar atau bikin-bikin (arts and crafts). Jadi tangan Ilham nggak bisa diam. Dan minat itu dirangsang di sekolah, bukan sama emaknya. Maret 2013, Ilham lulus dari TK Outou dan lanjut SD Youtouku bulan April 2013. Kini, Ayal dan Ilham bergandengan tangan tiap berangkat sekolah. Pun pulangnya.

Bagaimana dengan Ibun? Pemeran utama cerita ini, deng deng. 😀 Ibun pun tak lepas dari culture shock. Sebelumnya doi adalah perempuan bekerja yang budiman eh mandiri. Berangkat pagi pulang malam demi passion. Keliling Indonesia dan ke luar negeri dalam rangka pekerjaan. Sebelum di Jepang, setahun melajang di Belanda dan jadi solo traveler keliling 14 negara di Eropa. Sekarang apa yang harus dikerjakan di Kyoto? Mengurus keluarga demi meraih ridho Ilahi? Belajar bahasa Jepang , jalan-jalan (lihat di www.tentangkyoto.com aja), baca novel, denger musik, demi memuaskan diri sendiri? Pastinya. Pastinya. Tapi bohong, ah, kalau nggak jenuh. 😉 Sempat ada godaan untuk lanjut studi dan bekerja seriusan, tapi sepertinya Allah lebih mendukung plan A untuk fokus tiga tahun di Kyoto.

11267184074_55c5a4e56c_o

11267974845_d7af278e57_o

Jadi gimana, dong, biar nggak jenuh? Bergaul. Iya, bagi saya, bergaul. Tak pernah ada hasil bosan dari bersilaturahmi. Awal kedatangan di Kyoto, saya nyaris tak punya teman. Hanya Mihoko dan Jafar, teman si Abah. Paling juga dikenalkan sekilas dengan keluarga Pak Ishaq dan Mbak Shanti, yang waktu itu sedang repot dengan urusan internal keluarganya hehe (ngurus anak kembar sambil hamil, dsb, dsb, hidup Mbak Shanti! hehe). Ya, karena suami memutuskan fokus studi, dia juga nggak mau berorganisasi atau banyak gaul. Jadilah saya nggak kenal siapa-siapa. Sebenarnya kami memang mau fokus sama keluarga, karena sebelumnya saya dan suami sama-sama sibuk. Setelah dari Jepang pun pasti kami kembali sibuk.

Anyway, at that time I really wanted to interact with the locals. Ya, saya bertekad harus “kenal” orang Jepang, kan pengen tahu sesama manusia ciptaan Allah gitu. 😉  Saya nggak mau cuma menjadikan Jepang sebagai latar belakang foto keluarga kami. Untunglah Allah menuntun saya bertemu dengan Fumie Kawasaki di taman Imperial Palace. Dari situ saya dapat jalan untuk cari sekolah Ilham, bergabung jadi relawan di JAFORE/Multilingual Playgroup, dan yang paling utama: mendapat sahabat-sahabat beda bangsa yang dekat di hati. Alhamdulillah. Cerita lengkapnya tentang bergaul dengan penduduk lokal bisa baca di sini. Oya, minggu depan, 10 November 2014, saya diundang baca cerita di Multilingual Playgroup, terus katanya NHK mau nyuting kami. Hihi asyik mau masuk tipi, maaaaak! 😀

Oya, cara lain kalau mau bergaul dengan warga lokal dan internasional, sering-sering ikut kegiatan di Kyoto International Community House (Kokoka). Les Bahasa Jepang (Nihongo) kek, kelas minum teh kek, main-main, kek. Di sana saya juga bertemu beberapa teman baik.

Jadi setahun pertama saya di Kyoto, kerjaannya kalau nggak les bahasa Jepang ya main sama mamatomo (mama tomodachi – ibunya teman-teman Ilham di TK) tiap sore di taman (kadang-kadang masak-masak dan makan siang bareng). Kegiatan favorit tentu aja baca novel di bawah rindang sakura atau momiji, hihi. Soal masak nggak ada kemajuan. Kadang-kadang datang Multilingual Playgroup dan presentasi tentang Indonesia di beberapa tempat. Oh ya, kami sekeluarga juga nggak banyak main di Kyoto soalnya juga masih ada sepupu-sepupunya Ilham dan Ayal di Kobe (bapaknya kuliah di Hiroshima, ibunya kuliah di Kobe, hebat, ya). Sekarang, sih, sudah pulang.

11260422104_e521ce7609_o

Setelah itu, takdir menuntun saya ke hal lain lagi. Dengan komunitas orang Indonesia, sejujurnya saya baru “kenal” tanggal 9 Februari 2013. Waktu itu pengajian ibu-ibu, nama pengajiannya Annisa Shalihah, di rumah Mbak Erma di Kameoka. Itu juga karena Mbak Nino “menemukan” saya di antara puing-puing, haha. Nah, saya kan sebenarnya jarang-jarang datang pengajian. Tiba-tiba di bulan Februari 2014, waktu pengajian di rumah Bu Ami Mizuno, orang-orang menunjuk saya yang lagi bengong di pojokan buat jadi Wakil Ketua Pengajian. “Bantuin Teh Nisa,” kata orang-orang sambil menyebut nama Ketua Pengajian kami. Karena hampir nggak punya alasan buat menolak (anak sudah besar, kuliah nggak, kerjaan juga “kelihatan” gak ada), ya sudahlah, saya terima. Sejak itu, mulailah saya agak intens bergaul sama perempuan-prempuan Indonesia yang hebat-hebat di Kyoto. (Catatan: mulai kemarin saya sudah mengundurkan diri jadi pengurus pengajian ;))

Ternyata itu hanya awal. Saya ditunjuk jadi komandan “Seminar Kebudayaan Indonesia” di Kyoto International Community House (Kokoka), September 2014. Persiapan dilakukan berbulan-bulan sebelumnya. Alhamdulillah, berkat rahmat Allah dan bantuan teman-teman yang keren-keren di Kyoto, acaranya bisa dibilang sukses. Katanya sih pihak Kokoka muji-muji kami, terus peserta Jepangnya puas. Hihi, senang, deh.

Selain itu, gara-gara Pemilu Presiden, kami sekeluarga jadi kenal dan kemudian dekat sama orang-orang idealis pecinta negeri (baca: penggemar Jokowi). 😀 Jadilah kami sering ngumpul, nonton bareng, dan makan-makan.

Bergabungnya kami dengan komunitas Indonesia di Kyoto ternyata membawa berkah untuk Ilham. Dia yang susah berteman, kini memiki teman akrab, gadis-gadis cilik Indonesia di Kyoto, hahahaha (hmm soalnya di sekolah teman-teman cewek Jepun Ilham suka mengerumuni kalau Ilham menggambar). Ya, gara-gara itu, Ilham mulai mengasah kemampuan bergaulnya. Pertama dengan anak-anak Indonesia itu saja. Sekarang sudah bisa main petak umpet dengan teman-teman Jepang di sekolah. Hiks, Ibun si anak (ngaku-ngaku!) gaul terharu. :’)

15426475088_c9f5a0641f_o

Jadi begitulah tahun kedua kami di Kyoto. Makin banyak jalan-jalan (catat: Ibun). Mulai bergaul dengan komunitas Indonesia. Bikin banyak acara. Makin dekat dengan teman-teman Jepang. Bahasa Jepang nggak maju-maju. 😀 Oh ya, si Abah berhasil memaksa Ibun buat “kerja” sama doi, menjadi kontributor tetap di http://www.tentangkyoto.com. Semoga bermanfaat, deh.

Lalu, mau apa di tahun ketiga?

Kembali ke khittah: fokus pada keluarga. Ya, bagi kami, tiga tahun di Kyoto ini sangat berharga. Sebelum di Jepang kami keluarga yang sibuk dan berserakan. Ibun di Moskow, Abah di Ujung Kulon, Ayal di Pandeglang, Ilham di Surabaya, itu biasa. Setelah di Jepang pun niscaya kami kembali sibuk dan berserakan. Penting bagi kami untuk menabung kebahagiaan di sini, di Kyoto. Untuk kebahagiaan yang lebih sejati kelak.;)

Doakan!

(aul)

Advertisements

6 comments

  1. Pak, maaf saya mau tanya.
    Selama bapak tinggal di jepang, benarkah biaya hidup di jepang sangat mahal?

    Terima kasih banyak sebelumnya…..

  2. Assalamualaykum, salam kenal 🙂
    Saya dan suami baru sampai di Kyoto kurang lebih 2minggu ini.. Terima kasih buat info-infonya sangat berguna.. Saya mau tanya ttg pengajian di KYoto apa masih ada? Kalo masih ada mohon infonya yaaa.. Terimakasih 🙂

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s