Sekolah Anak-anakku di Kyoto (3)

Tulisan ini sebenarnya bukan soal sekolah Ayu dan Ilham di Kyoto, tapi bagaimana secara umum murid-murid di Jepun dididik oleh Gurunya. Secara ajaib, pendidikan ini menghasilkan anak-anak berkarakter: buang sampah pada tempatnya, patuh pada peraturan lalu lintas atau tak berani mengambil yang bukan haknya. Istri saya berdiskusi dengan Mama Tomo (orang tua murid) lain, mereka melihat bahwa porsi terbesar pendidikan karakter di Jepun adalah di sekolah.

Ayu mendapat piagam penghargaan sebagai peminjam buku terbanyak ke-3 tingkat kelas di SDN Yotouku dengan 33 buku selama 1 semester

Pada gilirannya, ketika anak-anak menjadi bagian dari masyarakat, memiliki peran, hasil pendidikan ini berbuah manis. Kota-kota di Jepun cukup bersih, situasi cukup aman dan lalu lintas tertib.

Suatu ketika kamera DSLR saya beserta dua lensanya ketinggalan di taman kampus. Satu jam kemudian saya baru ingat dan hendak mengambilnya, barang sudah tidak ada. Nah begitu datang ke kantor satpam kampus, ternyata barangnya ada di sana diserahkan seseorang. Tripod saya pernah terpasang di sungai selama setengah hari di sungai, begitu gelap saya ambil, masih ada di sana.

Tas Istri saya ketinggalan di bis. Beberapa jam kemudian, tasnya bisa diambil di kantor terminal terdekat.

Ha ha, entahlah ini koleksi kecerobohan kami atau karakter baik orang Jepun.

Tapi tentu saja, kejahatan, kenakalan anak-anak seperti saling mengganggu dan ketidaktertiban ada, tapi jumlahnya tak banyak, dianggap anomali dan biasanya diselesaikan dengan sigap. Ayu pernah diganggu temannya, alhasil orang tua temannya datang ke rumah bersama Sensei (Wali kelas) untuk memohon maaf.

Duh tiba-tiba saya teringat seorang kawan yang menangis ketika menolak SPPD Fiktif di sebuah instansi pemerintah di sebuah negara antah berantah, karena dia yang berusaha jujur malah dianggap anomali.
Atau bagaimana pesta rakyat kemarin berakhir dengan tumpukan sampah di Monas dan sekitarnya.

Sumber:http://suarajakarta.co/wp-content/uploads/2014/10/247538.jpg

Ini hasil pendidikan juga bukan?
Semoga hal ini menjadi bagian paling diperhatikan oleh Menteri Pendidikan kita yang baru ya, apapun slogannya, “pendidikan berkarakter” atau “Revolusi mental”.

Baiklah, video berikut tentang bagaimana guru mengajar murid-muridnya di sebuah SD di Kanazawa mungkin bisa menjadi pelajaran buat kita semua, mohon maaf bagi yang sudah menonton.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s