Tentang Pariwisata di Kyoto

Rabu, 3 September 2014, saya berkesempatan ngobrol dengan Rie Doi, Direktur Promosi Biro Konvensi Kyoto (Kyoto Convention Bureau). Apa itu “Kyoto Convention Bureau” (selanjutnya disingkat KCB)? Hmm, tak lengkap bicara pariwisata di Kyoto tanpa tahu KCB.


image

Tentang Kyoto Convention Bureau

“KCB adalah eksekutor kebijakan pariwisata yang telah dirumuskan Pemerintah Kota Kyoto,” jelas Rie Doi, “dana pun disuplai sepenuhnya oleh Pemkot Kyoto.” Didirikan pada 9 Januari 2007, KCB didukung oleh industri pariwisata di Kyoto, mulai dari agen perjalanan, hotel, tempat wisata, pemandu wisata, PCO, dsb. Oh, kayaknya semacam Singapore Tourism Board, nih (atau Badan Promosi Pariwisata Indonesia? Jalan nggak, sih? Update, dong, teman-teman).

Fungsi utama KCB sendiri adalah menyebarkan informasi tentang Kyoto yang berkualitas tinggi dan mempunyai beraneka ragam hal menarik kepada dunia, dengan cara melakukan berbagai promosi, sehingga menarik wisatawan asing dan pelaksanaan MICE (Meeting, Incentive, Conference, Event).

Untuk memaksimalkan fungsi KCB, Rie bercerita ada sepuluh kantor promosi di berbagai negara: Amerika Serikat, Perancis, Inggris, Jerman, Australia, Taiwan, Korea, Tiongkok, Hongkong, dan Uni Emirat Arab. Wow, kantor promosi pariwisata tingkat kota saja punya kantor di luar negeri, serius banget. Sedangkan kita…. (langsung insecure :P)

Tak hanya mendirikan kantor di luar negeri, sebagai Direktur Promosi Rie juga bertugas mengundang media dari seluruh dunia ke Kyoto. Terakhir, baru saja wanita berambut pendek ini mengajak 70 media asing jalan-jalan di Kyoto. Hmm, kalau ini sama, lah, kayak yang biasa kita lakukan …. 😉

Selain itu, upaya promosi tentu saja menggunakan internet. “Ini website buatan kami, www.kyoto.travel,” ujar Rie sambil menunjukkan situs resmi pariwisata Kyoto di komputer jinjingnya. Segala informasi tentang Kyoto mulai dari tempat wisata, penginapan, restoran, tercantum lengkap.

Di Kyoto sendiri, KCB mensubsidi kegiatan-kegiatan pariwisatanya. Pantas saja sepanjang tahun kota ini selalu ramai events. Dirangsang pakai subsidi juga ternyata. Untuk program kebudayaan bisa disubsidi 70% dari total pembiayaan dan untuk kerajinan tangan disubsidi 100%. Ini foto brosurnya:

2014-09-06 08.47.48 2014-09-06 08.47.55

Target Wisatawan di Kyoto

Tahun 2013, wisawatawan asing yang datang ke Kyoto berjumlah 1.127.852 orang. Yang terbanyak berasal dari Taiwan (20,8%), Amerika Serikat (14,5%), dan Tiongkok (9,5%). Mana Indonesia mana? Tenang, baru sekitar 10,423 wisatawan asal Indonesia, atau hanya sekitar 0,9%, yang berkunjung ke Kyoto. Nanti kalau bebas visa tahun depan bisa makin banjir kayaknya….

Ini “bocoran” survei pariwisata Kyoto tahun 2013:

2014-09-06 08.49.56

2014-09-06 08.50.12
Lalu strategi apa yang bakal dipakai KCB untuk menarik lebih banyak turis asing? Rie menjawab, “Sebenarnya kami tidak memfokuskan pada jumlah, tapi kualitas.” Yang disebut “kualitas” di dunia pariwisata tentu saja berkaitan dengan lama tinggal dan belanja wisatawan. Di Kyoto, misalnya, wisatawan Taiwan boleh jadi ranking 1, tapi biasanya mereka cuma tinggal sebentar. Maklum, kira-kira cuma dua jam Taipei-Kyoto, jadi semacam weekend gateway gitu, deh. Berbeda dengan turis Amerika Serikat yang tinggal lebih lama di Kyoto, kan jauh, ya, bo.

Jadi menurut Rie, KCB akan lebih meningkatkan fasilitas di Kyoto, semacam ryokan, restoran, atraksi, agar wisatawan tinggal lebih lama (dan belanja lebih banyak). “Misalnya kami sedang mendorong kelas memasak di sini,” jelas Rie. Tentu saja ini berdasar karakteristik wisatawan Asia yang suka kuliner. Tambah wanita ramah ini, “Lagipula kami punya sejarah panjang soal kuliner.”  Ya, washoku, set makanan khas Jepang, Desember tahun lalu sudah diakui sebagai warisan budaya dunia oleh UNESCO. “Padahal kita orang Jepang juga makan masakan kayak gitu tiap hari paling setahun dua kali,” canda Rie.

Menariknya, Kyoto ternyata bukan destinasi wisata yang populer untuk wisatawan Asia yang berkunjung ke Jepang. Secara keseluruhan, warga Asia merupakan pengunjung terbesar Jepang, yaitu sebanyak 78,3% dari total wisatawan asing. Tapi yang mampir ke Kyoto cuma 46,3%! Wah, apa berkaitan dengan stereotip wisatawan Asia yang suka belanja dan tak suka wisata sejarah? Harus lihat penelitian lain, nih.  Jadi penasaran, kalau ke Jepang, wisatawan Indonesia pada pengen ke Kyoto, nggak, sih?

Anyway, sekarang kami juga menyasar wisatawan Muslim,” lanjut Rie, “Karena pemeluk agama Islam menunjukkan pertumbuhan signifikan di dunia.” Lalu dia menunjukkan  situs http://kyoto.travel/muslim/ yang tersedia dalam empat bahasa: Inggris, Arab, Turki, dan Melayu. Rie minta maaf karena nggak ada Bahasa Indonesia. Saya, sih, nyengir aja. Jadi di situs itu ada informasi soal makanan halal dan hotel yang ramah muslim di Kyoto. Selain itu Rie juga menunjukkan salah satu produk khas Kyoto untuk muslim: ‘Hijab’ x Kyoto (http://hellokcb.or.jp/info/pdf/03-20140115-2.pdf ). Mantap, bisa dipakai Dian Pelangi, nih….

Masih soal wisatawan muslim, kami lalu asyik bicara soal makanan dan restoran halal di Kyoto. Jadi ingat thesisnya Nadya Azzahra nih, hehe. Rie bilang sulit untuk memprioritaskan makanan halal untuk wisatawan asing. Karena perbandingan wisatawan asing dan domestik di Kyoto itu 1,13 juta banding 50 juta orang. Jadi jelas, dong, yang diprioritaskan siapa. Tapi Rie tidak menafikan bahwa di masa depan wisatawan asing akan semakin diprioritaskan. Apalagi mengingat jumlah penduduk Jepang makin menurun, hiks.

Jadi, seberapa penting pariwisata buat Kyoto? Kening Rie berkerut, lalu dia berucap, “Kalau tidak ada pariwisata, Kyoto bisa mati.” Dia bercerita saat bencana gempa bumi dan tsunami di Tohoku tahun 2011, turis di Kyoto menurun hingga hanya 500 ribu orang! Warga Kyoto yang biasa bergantung pada pariwisata pun terpukul. Ya, tak hanya pegawai hotel atau pemilik restoran, pariwisata juga menghidupi pengrajin souvenir di Kyoto. (Makanya, souvenir dan makanan khas Kyoto, meski mahal, kualitasnya tak diragukan lagi).

Kini, Kyoto sudah berbenah kembali, wisatawan pun kembali di atas angka 1 juta pengunjung. Tahun depan, ketika Jepang sudah bebas visa buat warga negara Indonesia, apakah Anda salah satu pengunjung Kyoto?

(aul)

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s