Pelatihan Menghadapi Bencana di Kyoto

Pada tanggal 30 Agustus 2014, kami sekeluarga ikut “Kyoto City Comprehensive Disaster Drill”. Asyiknya, pelatihan menghadapi bencana ini diadakan di kawasan wisata terkenal: Higashiyama dan Kiyomizudera. Tak pikir panjang, ibunya anak-anak mendaftar via email ke Kyoto International Community House (biasa disebut Kokoka).

Sabtu pagi, 08.15, kami turun dari bis no. 206 di halte Gion. Menurut jadwal, kami harus berkumpul pukul 08.30 di pintu utama Kuil Yasaka. Benar saja, rombongan dari Kokoka sudah berkumpul di sana. Tak hanya dari Indonesia, peserta lain ada dari Tiongkok dan Suriah.

20140830_082204

Tepat pukul 08.30, pemimpin rombongan mengumumkan rencana perjalanan hari ini. Dimulai dari Kuil Kodai-ji di area Higashiyama, lalu berakhir di Kiyomizudera. Rombongan dibagi tiga kelompok. Kami kebagian kelompok A yang memakai pengantar Bahasa Inggris. Kelompok A terdiri dari keluarga Abah Hamid, Ibun Ulil, Aya chan, Ilham kun, Tante Nadya, Idris san, dan satu orang bule (nggak kenalan). Pemandu kelompok A seorang wanita berambut pirang bernama Oleana. Dia berasal dari Ukraina, namun sudah menetap di Kyoto selama 15 tahun.

Sambil berjalan menuju Kodai-Ji, Oleana bercerita bahwa kegiatan “Disaster Drill”ini adalah acara tahunan pemerintah Kyoto. Ternyata pesertanya bukan hanya gaikokujin atau orang asing seperti kami, tapi juga penduduk lokal Kyoto. Khusus peserta asing memang dikoordinir oleh Kokoka.

Sampai di Kodai-ji, benar saja ternyata sudah ramai warga Kyoto menyemut di sana. Banyak tenda di pasang di pelataran kuil. Bukan tenda jual makanan, tapi tenda dengan berbagai peralatan menghadapi bencana. Mobil pemadam kebakaran maupun mobil untuk mencoba kekuatan gempa juga ada.

 

20140830_085647

 

Nah, di sini memang kami ditantang merasakan dahsyatnya gempa. Deg-degan pastinya. Doki-doki. Tapi kami berempat memberanikan diri masuk ke mobil untuk mencoba gempa. Pemandu acara menjelaskan bahwa kami akan mencoba kekuatan gempa seprti yang terjadi di Kobe (1995) dan Tohoku (2011). 9 skala Richter bo, mati aku.

Kami berpegangan erat pada tiang di atas meja. Tak lama, seluruh tubuh kami tergoncang keras. Bila tak berpegangan, niscaya sudah terlempar! Di layar samping terlihat video barang-barang di atas meja dan dalam ruangan berjatuhan. Jadi terbayang bagaimana mengerikannya gempa sesungguhnya…. 😥

20140830_091359

Kelar simulasi gempa bumi, kami menuju simulasi banjir. Hmm, kalau ini, mah, di Jakarta juga sering…. 😀 Setelah pakai sepatu boot, kami nyemplung ke dalam kolam buatan. Air di dalamnya setinggi kurang lebih 30 cm. Nggak ada apa-apanya, deh, dibanding banjir di Kalibata, hehe. Tapi pemandunya dengan rinci menerangkan supaya membawa tongkat dan berhati-hati dengan benda-benda di bawah air. Biar nggak jatuh gitu maksudnya. Oya, ada kolam arusnya juga, jadi kita bisa berenang, hore (ya nggak lah :P).

Oh ya, di Kodai-ji kami juga mencoba mobil pemadam kebakaran yang imut. Ya, memang dua-duanya imut, kok, mobil dan pemadam kebakarannya, hehe.

image

Selesai urusan di Kodai-ji, kami menyusuri kawasan Higashiyama ke Kiyomizudera. Oleana bercanda,“Jangan mampir ke toko souvenir, ya.” Memang di sepanjang jalan tikus di Higashiyama ini tokonya jual oleh-oleh yang kawaii.

20140830_095604

20140830_101612Makin dekat ke Kiyomizudera, makin capek karena jalannya menanjak. Serunya, ternyata peserta pelatihan bencana ini tambah banyak! Kok, tahu? Iya lah, mereka kan pakai rompi peserta yang sama kayak kami. Hmm, kira-kira berapa ribu peserta, nih? Acara seriusan Pemkot Kyoto ternyata….

2014-08-30 10.13.39

Pura-puranya, Kiyomizudera ini jadi pusat penampungan pengungsi. Saat bencana, kereta dan bis berhenti. Jadi ke mana kita pergi, Dora? Ya, ke tenda pengungsi. Para petugas BNPB (eh) membagi air minum dan nasi bungkus (ala Jepang). Begini penampakannya:

20140830_085640

2014-08-30 10.23.29

Kenyang makan, kami latihan memasang perban ala P3K. Berbagai macam gaya, nggak kalah sama tutorial hijab.

2014-08-30 10.35.24

Lagi asyik-asyiknya mencoba masang perban, tahu-tahu walikota Kyoto datang di hadapan kami. Iya, Pak Walkot, Ridwan Kamil, eh maksudnya Daisaku Kadokawa! Wah, bener acara seriusan hari ini, euy….

20140901094821Acaranya sudah selesai? Belum. Ini dia puncaknya: masuk ke Kuil Kiyomizudera gratis, hehe (halah). Biasanya bayar 400 yen, lumayan, kan. Mana ini kuil terkenal banget. Turis biasanya belum sah ke Kyoto kalau belum ke Kinkakuji, Fushimi Inari, atau Kiyomizudera.

Di dalam area Kiyomizudera, peserta disuguhi atraksi bagaimana kalau Kiyomizudera terbakar. Kuil ini memang rentan terbakar, karena terbuat dari kayu dan berumur lebih dari 1200 tahun! Pantas saja diakui UNESCO sebagai situs warisan budaya dunia. Nah, begitu ada alarm kebakaran, otomatis air menyembur dari berbagai sudut bangunan Kiyomizudera. Pemadam kebakaran (yang ganteng-ganteng :D) berlarian menuju kuil. Cara kerja mereka rapi dan sistematis. Sila ditengok videonya.

Ya, secara umum kami puas ikut kegiatan berdurasi tiga jam ini. Terutama bagian masuk Kiyomidera gratisan, dapat nasi bungkus, dan uang transport, hehehehe. Nggak ding, kami yang awam belajar banyak tentang cara menghadapi bencana. Anak-anak sudah berencana menyiapkan ransel yang isinya perlengkapan mengantisipasi bencana. Saya pribadi, sih, terkagum-kagum bagaimana cagar budaya menyiapkan diri menghadapi bencana. Kira-kira kalau Candi Borobudur kebakaran, bagaimana, ya? (aul)

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s