Kelas Bikin Bento

Ah, ini sebenarnya cerita tahun lalu. Rabu, 6 Februari 2013, saya diajak Miyatake sensei, guru bahasa Jepang di YWCA, untuk ikutan kelas bikin bento. Tanpa pikir panjang, aku okein aja. Biar kalau bikin bekal sekolah Ilham nggak malu-maluin banget, lah….  ^_^
Singkat cerita, siap-siaplah daku dengan membawa apron dan sosis halal. Oiya, menu yang mau dimasak hari ini salah satunya sosis, yang pastinya dari daging babi, dong. Makanya saya bawa sosis sendiri, yang halal, beli di Masjid Kyoto. Masih beriman, dong, gue…. 😛
Peserta kelas bento nggak banyak, cuma empat orang termasuk aku. Dua orang Korea, satu dari China. Mereka udah lumayan lama di Jepang, lebih dari satu tahun, malah ada yang nikah sama orang Jepang segala. Hayo, ibu-ibu, bersemangat! ^_^
Pengajarnya, uhm, maksudnya yang ngajarin kami, ada empat orang juga. Mereka ibu-ibu separuh baya relawan YWCA.
Menu pertama adalah nasi. Diajarin lah kami masak nasi. Please, deh…. 😛 Tapi pengajarnya nyadar muridnya pada makhluk pemakan nasi, jadi gak lama-lama. Mereka bilang biasanya harus dijelasin rinci kalau ngajarin bule-bule. Oh, okay, I got it.
Menu kedua kami sosis bentuk macem-macem, mulai dari bentuk gurita (tako), kepiting (kani), dsb. Hmm, buat saya yang gak biasa kerja detail, susah juga ya bo, apalagi pas ngasih mata di sosisnya. Busyet dah…. 😛
Ya udah abis dibentuk-bentuk gitu, digoreng aja. Eh, minyaknya dikit aja ya, gak kayak orang Indonesia, hehe.
Oiya, ada pengalaman yang gak terlupakan, masalah wajan. Saya kan gak ngomong apa-apa ya, secara bahasa Jepangnya e’o’ gitu…. 😛 Tapi para pengajarnya itu otomatis misahkan wajan saya ama wajan yang dibuat goreng sosis babi. Mereka nanya-nanya apa gitu tapi soalnya saya gak ngerti ya iya-iya aja. 
Menu ketiga adalah tamagoyaki. Ini sebenarnya kayak telur dadar atau omelet gitu. Cuma nuang telur kocoknya gak sekaligus, tapi 2-3 kali gitu, terus digulung satu-satu. Bentuknya juga kotak, pake wajan kotak. Abis digoreng (minyak n garemnya dikit ya, ingat ;)), terus dipotong-potong. Udeh.
Menu selanjutnya adalah brokoli rebus. Ya udah, pokoknya harus pake sayur. Terus pakemnya bento Jepang harus warna-warni, paling nggak lima warna kalau gak salah. Selain warna hijau dari brokoli, kami juga siapkan tomat ceri warna merah cerah. Hmmm, kayaknya gak bakal dimakan juga nih sama Ilham…. 😛
Terakhir, kami bikin onigiri (rice ball dari nasi yang udah mateng. Ternyata gak perlu segitiga banget kayak yang dijual di kombini(convenient store), sodara. Dibilang kalo tiap daerah di Jepang beda-beda, ada yang bulat banget, ada yang gini, ada yang gitu. Dalamnya onigiri bisa apa aja, mulai dari salmon sampe ceri. Tapi kita bikin yang biasa aja lah, yang dilapisi wijen.
Nah, sekarang waktunya menghias bento, yang mana bukan keahlian gw (ngeles). Tapi jadilah. Dipuji, lah (orang Jepang mah gak pelit pujian). Abis itu kami makan bareng, sambil ngelancarin bahasa Jepang. Monggo didahar bentonipun! 😉

20130215-123728.jpg

20130215-123748.jpg

20130215-123808.jpg

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s