Kouchou Sensei

”Bun, cepat pulang, guru Ayu mau pulang,” begitu pesan dari suamiku. Sore itu aku sedang ada urusan di Osaka. Aku kaget. Ada apa? Jadwal kunjungan guru Ayal dan Ilham kan tanggal 16 Mei. Sekarang 14 Mei, pikirku.
Sampai apartemen, anak-anak dan si Abah sudah selesai membersihkan ruangan dalam sekejap.
”Kocho sensei mau datang, Bun,” lapor Ayal, anak perempuanku yang berusia 8 tahun.
”Hah, Kepala Sekolah? Doushitan? Ada apa? Bukannya jadwal berkunjung guru baru lusa?” cecarku.
Ayal menggedikkan bahu.
”Baru aja ditelpon dari sekolah. Nggak tahu ada apa,” suamiku tak bisa menyembunyikan resahnya.
”Moga-moga nggak ada apa-apa, ya,” gumamku.
Sambil menunggu, kami makan malam dan sholat Maghrib. Tapi itu juga tak bisa menghilangkan rasa penasaran.
”Kok lama ya. Katanya bakal datang dalam 10 menit, kok,” ujar suamiku.
”Ya udah, kita santai aja dulu. Hebat euy bisa bersihkan rumah dalam sekejap,” komentarku, menggoda anak-anak.
”Mbak Ayu nih hebat, rajin,” kata suamiku. ”Kalo Ilham main-main.”
Aku tertawa. “Kan masih kecil,” ujarku.
Hampir jam delapan malam, aku pikir Bu Kepala Sekolah batal datang. Hampir aku membuka jilbab dan mandi ketika bel berbunyi.
”Kita, kita. Datang, datang.”

Kubuka pintu apartemen mungil kami. Benar, perempuan Jepang berusia sekitar 40-50 tahun berdiri di depanku. Penampilannya sederhana dengan sweater warna lembut dan rok selutut.
”Konbanwa. Maaf malam-malam mengganggu,” kata Kocho Sensei dalam bahasa Jepang.

“Iie. Daijyobu. Tidak apa-apa. SIlakan masuk, Sensei,” balasku.

“Tidak usah, di sini saja,” pinta Kocho Sensei, “Aya chan, tolong terjemahkan, ya.”

Aya di sampingku mengangguk. Tahu aja kalau Bahasa Jepangku nggak berkembang, hehe.

Ternyata Kocho Sensei datang untuk menjelaskan bahwa ada kekeliruan dalam lembar menu makan siang (Kyushoku) anak-anak. Anak SD di Jepang, kan, makan siang di sekolah. Tiap beberapa hari sekali selalu ada lembar jadwal menu makan siang, lengkap dengan jumlah kalori dsb. Nah, karena kami muslim, ada permintaan khusus untuk memberitahukan bila ada makanan yang mengandung babi. Jadi lembar makan siang Ayal dan Ilham selalu ada goresan stabilo, sebagai penanda makanan tersebut mengandung babi. Bila makanannya mengandung babi, maka aku membawakan bento halal buat anak-anakku.

2014-05-16 12.57.00

Rupanya, hari itu guru Ayal dan Ilham salah menggoreskan stabilo. Bukannya sayur yang mengandung babi, tapi lauk.  Untungnya, guru Ayal dan Ilham cepat sadar ada kesalahan. Mereka langsung mencegah anak-anak makan lauk yang mengandung babi. Begitu cerita Kocho Sensei, seperti yang diterjemahkan Ayal.

“Gomenasai,” ucap Kocho Sensei, sambil membungkukkan badannya dalam-dalam.

Hah??? Jadi Kepala Sekolah yang terhormat ini repot-repot datang ke apartemen kumuh kami untuk minta maaf gara-gara kesalahan kecil? Mataku berkaca-kaca. Tak terbayang ini terjadi di negeriku (moga-moga sekarang sudah berubah).

“Iie, daijyobu, Sensei. Honto,” ucapku, tecekat. Tidak apa-apa, sungguh.

Tak lama, Kocho Sensei meninggalkan apartemen kami. Tapi jejak kebaikannya masih tertinggal di hatiku.

 

Kyoto, 16 Mei 2014

 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s