Naik Gunung Hiei

Ketika Kyoto masih jadi ibukota Jepang, di gunung ini terletak pusat pembelajaran agama Buddha tersohor. Semacam pesantrennya kira-kira, yang melahirkan biksu-biksu Buddha ternama pada masanya, bahkan aliran yang didirikan masih ada hingga kini.

Popularitas gunung setinggi kurang lebih 840 meter di atas permukaan laut ini dulu disamakan dengan Gunung Fuji atau Fujisan.

Hmm, karena penasaran, kami putuskan hari ini menjelajahi gunung yang terlihat dari atap rumah kami ini: Gunung Hiei atau Hiei San. Kompleks kuilnya bernama Enryakuji, yang sejak tahun 1994 dimasukkan sebagai Situs Warisan Budaya Dunia oleh UNESCO. Selain kuil, yang menarik lagi adalah Garden Museum di puncak Hieizan, yang menghadap Danau Biwa, dana terbesar di Jepang. Oya, secara administratif, kini Heizan berada di wilayah Kota Kyoto, Otsu, dan Shiga.

Berangkat sekitar jam 9 pagi, kami sekeluarga berjalan kaki sekitar 15 menit ke Stasiun Demachiyanagi. Di sini kami beli tiket terusan seharga 2500 yen. Tiket ini berlaku untuk perjalanan pulang-pergi dari Demachiyanagi ke Stasiun Yase Heizanguchi dengan naik kereta Eizan Railway, lalu menuju puncak Hiei San dengan ropeway dan cable car,  selanjutnya dengan shuttle busmenuju Enryakuji. Plus termasuk tiket masuk Enryakuji dan diskon masuk Garden Museum. Ini link tentang tiketnya:http://eizandensha.co.jp/densya/jyousyaken/otoku/otoku005.htm(bacanya pake google translate dong haha). Oya, tiket ini untuk dewasa saja, jadi Ayu tetap beli eceran, sementara Ilham karena masih TK, gratissss.

Kami sudah deg-degan bakal penuh keretanya soalnya orang-orang ngejar momiji (maple leaf, memerah saat musim gugur) di Hiei. Alhamdulillah nggak. Curiga nih, kemungkinan pertama, kita kepagian. Kemungkinan kedua, momijinya udah abis. Kelak kami tahu, kemungkinan kedua yang benar, hehe.

Perjalanan sampai dari Demachiyanagi ke Enryakuji memakan waktu kurang lebih satu jam lima belas menit. Sepanjang perjalanan, pemandangannya oke juga. Lebih bagus daripada ke Kurama (gunung satunya) menurutku. Yang pasti, dikelilingi gunung yang memerah dan langit biru. Dan anak-anak yang ceria (ini penting, kalau lagi rewel pan ilang indahnye haha). Ini foto-foto waktu di perjalanan:

Yang momijinya masih merah itu di sekitar Stasiun Yase Heizanguchi. Sebagian sudah rontok. Sepertinya puncak momijinya minggu lalu.

2013-12-01 09.55.05

2013-12-01 15.23.24

2013-12-01 10.06.53

20131201_101232_1

20131201_101211_1

20131201_142121_1

Betul sekali saudara, puncak momijinya minggu lalu. Sampai Enryakuji, kami hanya berjumpa dengan ranting pohon kering, hiks. Tak apa lah, aku pribadi suka di sini. Atmosfir religius dibalut sejuk udarra merambat ke hatiku, halah. Belum lagi pemandangan langsung ke Danau Biwa.

Dari hasil browsing, di kompleks Enryakuji di Hieizan ini ada sekitar 3000 kuil. Didirikan pertama kali tahun 788 M, sebagai pusat agama Buddha aliran Tendai oleh biksu bernama Saicho. Ada tiga kelompok kuil di sini: Todo (area utama), Saito, dan Yokawa. Kami nggak ke semua tempat la yaw, gempor lah. Kami cuma berkeliling di wilayah Todo. Bangunan utamanya adalah Kompon Chudo. Di dalam Kompon Cudho ada patung Buddha yang konon dipahat sendiri oleh Saicho. Kami sempat masuk Kompon Cudho dan mengintip sang patung. Sayangnya tidak boleh difoto.

Nah ini beberapa foto di Enryakyuji, tadaaaa:

2013-12-01 12.26.42

20131201_121505_1

Puas keliling di Enryakuji, kami balik ke puncak Hieizan menggunakan shuttle bus selama kurang lebih 10 menit. Tujuan selanjutnya adalah Hiei Garden Museum. Bukan sekedar taman bunga biasa, di sini penataannya terinspirasi lukisan karya Monet, Van Gogh, dsb (aliran impressionis? Halah sok tahu hehe). Keren benernya, sayang bunganya sudah pada rontok, hiks. Pantas tiketnya jadi murah di bulan Desember ini, 400 yen (diskon dari 500 yen). Dari Maret sampai November harga tiketnya 1000 yen kalau nggak salah.
Anyway, here are our pictures in the Garden Museum:

image

image

image

image

Waktu di sini, batere kameraku habis, jadi nggak sempet foto bunganya, hehe maaf ya.
Yah, begitu cerita kami hari ini. Bye fall, welcome winter!

Peta akses gunung Hiei dari stasiun Demachiyanagi

 

 

Kyoto, 1 Desember 2014

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s