Malam Indonesia

20130824_173636

Empat pemudi menari seraya membolak-bolak piring di kedua telapak tangannya dengan rancak. Di samping mereka, empat pemuda tak mau kalah ikut membolak-bolak piring mereka sendiri, dengan diselingi gerakan ala pencak silat. Di belakang para penari, empat orang lainnya menabuh gendang dan gamelan sambil menyanyi. Baju adat Minang berwarna hijau dan merah serasi dengan gerakan lincah tarian dan indahnya musik. Tata lampu yang berganti-ganti warna dengan cepat juga menambah megah sang Tari Lilin. Puncak tarian adalah ketika para pemuda memecahkan beberapa piring kemudian menginjak-injaknya dengan kaki telanjang!


Para penonton berdecak kagum. “Abunai, bisik Fumie Kawasaki, wanita Jepang yang jadi teman menonton pertunjukan malam itu. “Abunai” berarti berbahaya. Barangkali tak pernah terlintas dalam pikirannya, bagaimana hal pecahan piring itu diinjak dan tidak menimbulkan luka-luka para penginjaknya.
Yang jelas, sekitar lebih dari seratus orang yang memadati Concert Hall Kyoto International Community House memberikan aplaus meriah begitu Tari Lilin berakhir. Para mahasiswa Institut Teknologi Bandung yang tergabung dalam Unit Kesenian Minangkabau itu tersenyum senang melihat respon para penonton. Tak percuma jauh-jauh dari Bandung, begitu mungkin pikir mereka.

Ya, Tari Lilin hanya satu dari lima belas jenis pertunjukan dalam Malam Indonesia di Kyoto, Jepang, yang diselenggarakan selama tiga jam pada Sabtu petang, 24 Agustus 2013. “Malam Indonesia” merupakan kegiatan rutin dwi tahunan yang diampu Persatuan Pelajar Indonesia di Kyoto. Di sela-sela kesibukan belajar, para mahasiswa ini menyempatkan diri mempersiapkan hajatan untuk memperkenalkan kebudayaan Indonesia ke publik Kyoto. Tak hanya para pelajar Indonesia, Malam Indonesia juga didukung oleh organisasi Persahabatan Indonesia – Jepang dan Konsulat Jenderal Indonesia di Kyoto.

Tak sia-sia rasanya, persembahan para mahasiswa Indonesia – sebagian berkolaborasi dengan masyarakat Jepang pecinta Indonesia – disambut penonton dengan puas. Pertunjukan selama tiga jam bertema “Sumatra Night” yang terdiri dari tari Zapin, tari Tor-Tor, tari Saman, angklung, pencak silat, music akustik, dsb., mengalir lancar. Terkadang ada jeda yang cukup lama, namun ini bisa disiasati oleh pemandu acara, tiga anak muda Jepang dan seorang gadis Indonesia.

Selain soal jeda antar pertunjukan yang agak lama, ada beberapa masukan lainnya. Misalnya soal latar belakang panggung yang mestinya bisa dibikin lebih ramai dengan gambar atau video saujana Indonesia. Mestinya panggung bisa lebih ciamik, terutama karena tata lampunya cukup baik. Selain itu, tema dapat dibuat lebih beragam dan lebih up-to-date, misalnya membawakan lagu Jepang soundtrack film Studio Ghibli dengan angklung (hmm, ini sih maunya saya ^_^).

Soal kualitas pertunjukan, tentu saja harus dimaklumi bahwa kegiatan ini tetaplah acara mahasiswa. Levelnya tentu saja berbeda dengan pentas kebudayaan yang disponsori penuh oleh Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif misalnya. Pada Festival Indonesia 2010 di Moskow dan St. Petersburg yang saya pernah terlibat, para penarinya memang dari kelompok tari profesional. Begitu pula pertunjukan musiknya yang disupervisi penuh oleh Dwiki Dharmawan. Jadi tidak adil rasanya kalau membandingkan kualitas pertunjukan Malam Indonesia ala mahasiswa dengan Malam Indonesia-Malam Indonesia lain yang pernah saya saksikan yang kebetulan disponsori kantor saya bekerja.

Apapun, apa yang dilakukan para anak muda di Kyoto tadi malam itu, harus diapresiasi. Pun Malam Indonesia-Malam Indonesia lain di seluruh dunia, yang biasanya diselenggarakan dengan suka cita oleh putra-putri (konon) terbaik bangsa. Gairah para pemuda ini, yang ingin memperkenalkan negerinya ke orang asing, harus ditangkap oleh para pengambil kebijakan di Indonesia. Memang selama ini kegiatan mahasiswa Indonesia – terutama PPI – di seluruh dunia biasanya mengandalkan sponsor dari kedutaan. Nah, alangkah baiknya bila acara Malam Indonesia macam ini dikelola dengan lebih baik. Misalnya Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif menyiapkan anggaran khusus untuk Malam Indonesia yang dikelola mahasiswa Indonesia dari seluruh dunia, dibantu oleh Kedutaan. Setiap tahun bisa didata, ada semacam calendar of event, berapa Malam Indonesia yang diselenggarakan di seluruh dunia. Kota atau negara yang butuh “perlakuan” khusus, tentu harus dipandu langsung oleh pemerintah. Tapi untuk sebagian besar negara/kota lain, serahkanlah pada para diaspora muda yang sedang bergairah. Bukankah ini jauh lebih hemat daripada mengirim misi kebudayaan yang berbiaya besar dan diragukan efektifitasnya?

Adanya Malam Indonesia, terutama bila dikelola dengan serius, pastilah jadi ujung tombak promosi pariwisata Indonesia khususnya, diplomasi Indonesia umumnya.

Advertisements

6 comments

  1. berapa banjak orang non-Indonesia jang hadir dateng ke ini atjara? berapa banjak pula orang jang belom pernah melantjong ke NKRi jang hadir dateng ke ini atjara? Ada itu didata?
    Kalo jang dateng ja tjuman sesama warga NKRi, ja apa guna ini atjara punja tudjuan memperkenalken budaja Indonesia?

    • Bapak JSuryomenggolo yang baik alias wong njasar, terima kasih telah berkunjung ke blog kami dan memberi komentar. Saran Bapak semoga dibaca oleh kawan-kawan penyelenggara malam Indonesia. Kami sendiri tidak memiliki data soal berapa banyak jumlah orang non-Indonesia atau orang yang belum pernah melancong ke NKRI. Sungguh baik jika ada data-nya, mungkin data minimal ada di buku tamu, syukur-syukur ada survey kecil-kecilan. Namun kami berhemat, eh menurut hemat kami, memperkenalkan budaya Indonesia amatlah penting tidak hanya untuk orang non Indonesia dan orang yang belum pernah ke NKRI, tapi juga untuk orang Indonesia sendiri. terima kasih 🙂

  2. hallo mas/mbak 🙂
    anu, mau koreksi sedikit yang di awal. itu namanya tari piring, dan dibelakang penari ada 6 orang yg bermain musik gendang, talempong, dan alat tiup, hehe.
    anyway terimakasih sudah menyaksikan pertunjukan kami kemarin, semoga bisa menghibur para penonton di sana ya :).

  3. Terima kasih untuk tulisan pena-nya mba Aulia. Saya setuju sekali bahwasanya pertunjukan budaya Indonesia itu tidak hanya untuk orang Jepang saja melainkan mencakup negara lain dan juga tentunya Indonesia. Karena banyak jg ternyata teman-teman Indonesia yang belum banyak mengetahui budaya-nya sendiri. Diharapkan acara Malam Indonesia ini sendiri menjadi sebuah self-reflection untuk kita mengetahui kekayaan budaya Indonesia.
    Lalu di paragraf terakhir mengenai Sponsorship dari Kementrian Koperasi dan Ekonomi kreatif, mungkin mba Aulia dapat membantu perihal ini kepada rekan-rekan yg skr sedang prepare Malam Indonesia 2015.. Salah satu kendala pelaksanaan Malam Indonesia adalah di bidang sponsorship. Tentunya dengan bantuan sponsorship dr pihak pemerintah Indonesia akan mampu membuat Malam Indonesia lebih penuh kreativitas dan menjadi lebih baik..

    Salam
    Ari Rahman

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s