Gion Matsuri

Menyaksikan puncak acara Gion Matsuri beberapa hari lalu benar-benar membuat saya terpana. Beruntungnya saya, yang ikut suami sekolah di Kyoto, sehingga bisa menikmati festival kelas dunia ini hanya dengan kayuhan sepeda.

Ya, bagaimana tidak beruntung, Gion Matsuri adalah festival terbesar di Kyoto. Gion Matsuri juga adalah satu dari tiga festival terbesar di Jepang. Dua lainnya adalah Kanda Matsuri di Tokyo dan Tenjin Matsuri di Osaka (hmm, harus dikejar nih, hehe).


Selama sebulan penuh di bulan Juli yang panas, ritual Gion Matsuri diadakan di seputaran Kuil Yasaka dan sekitarnya. Nama Gion sendiri adalah distrik terkenal di Kyoto karena merupakan tempat kita bisa bertemu Geisha dan Maiko (Geiko bahasa Kyoto-nya). Letak Gion sendiri ada di seberang Kuil Yasaka.

Prosesi festival ini melibatkan 32 “kapal”, yang menghubungkan wilayah antar komunitas local. Kapal tersebut terdiri dari 23 Yama dan 9 Hoko. Yama adalah kapal yang lebih kecil, dengan berat kurang lebih 1,5 ton dan tinggi sekitar 6 meter. Yama biasanya dipanggul oleh banyak orang dalam parade. Sedangkan Hoko biasanya berukuran raksasa dengan dua kabin, dengan berat 5-12 ton dan tinggi sampai 25 meter. Dengan roda kayu, butuh 12 sampai 50 orang untuk menarik Hoko. Di lantai atas, para musisi dan pemuda berkumpul untuk bernyanyi.
Puncak festival musim panas ini adalah Yoiyama (14-16 Juli) dan Yama Hoko Junko (17 Juli). Yoiyama adalah pemanasan sebelum parade besar Yama Hoko pada 17 Juli. Pada 17 Juli, parade 32 kapal (floats/Hoko, tahun depan 33 hoko sesuai tradisi terdahulu) di sepanjang jalan mulai dari Shijo Karasuma terus menyusur I pinggir sungai Kamo hingga Karasuma Oike. Ini memang pusat keramaian di Kyoto, downtown-nya, jadi masyarakat dan turis berkumpul di sini. Tentu saja pada saat parade, mobil tidak boleh berlalu-lalang di sepanjang downtown. Ah, benar saja, biar panas sampai 38 derajat, saya dan orang-orang tetap semangat tuh. Untung saja orang-orang Jepang yang narik kapal itu pada nggak puasa, hehe.
Menariknya lagi, rumah-rumah di sekitar prosesi Gion Matsuri dibuka untuk masyarakat. Jadi kita bisa masuk dan melihat pusaka kebudayaan Jepang. Man, this is Kyoto!  Pengalaman saya, masuk ke rumah bekas apotik, terus rumah bekas pedagang, dsb. Barang-barangnya antik dan cantik, bo. Baunya juga bau kuno, obat kuno misalnya, hehe.
Asal Muasal Gion Matsuri
Nah, bagaimana sih asal muasal Gion Matsuri ini? Ketika Kyoto masih jadi ibukota Jepang, terjadi wabah di seantero negeri, tepatnya pada tahun 869 masehi. Jadilah Kaisar mengirimkan utusan khususnya ke Kuil Yasaka untuk berdoa agar wabah itu cepat berakhir. Dia juga memerintahkan Kuil Yasaka untuk mendirikan 66 tombak yang melambangkan 66 provinsi di Kekaisaran Jepang kala itu.Selain itu, roh Saudara Dewa Matahari juga dipercaya bersemayam di Kuil Gion – nama lama Kuil Yasaka. Roh dewa ini dipercaya bisa menghilangkan wabah, dengan cara mengarak benda suci di pusat kota Kyoto.
Singkat cerita, wabah berakhir, dan masyarakat bergembira. Mereka mengadakan perayaan sebagai tanda bersyukur. Perayaan itulah cikal bakal Gion Matsuri. Sempat berhenti pada abad ke-15, Gion Matsuri dirayakan warga Kyoto hingga kini. Untuk menambah semarak festival, sejak era Tokugawa pada abad ke-17 Masehi, kapal-kapal pengarak dihias dengan barang-barang dari Tiongkok, Persia, Korea, Belanda, dan Perancis. Ssst, kata orang Jepang yang pergi bareng saya nonton Gion Matsuri, sebenarnya barang-barang impornya tuh biasa saja, cuma jaman itu ya pasti keren, lah. Kalau saya lihat sih, karpet India yang jadi penghias salah satu Hoko itu ya keren-keren aja, sih.

Alur Festival
Sepanjang Juli, kita diajak untuk mengikuti alur ritual Gion Matsuri. Dimulai pada tanggal 2 Juli, Kujitori-Shiki, ketika seluruh alur festival diputuskan oleh walikota dan pemimpin masyarakat.
Lalu tanggal 10 Juli petang diadakan Omukae-chochin, atau semacam pembukaan dengan menyalakan lentera festival yang bergantung di tiang bambu di sepanjang kuil. Dilanjutkan ritual bernama Mikoshi-Arai, yaitu ritual membersihkan Mikoshi (bawaan suci di kelenteng Shinto) dengan air dari Sungai Kamo.
Lalu, semakin mendekati puncak, yaitu Gion Bayashi pada 14-16 Juli. Saat Gion Bayashi inilah para turis maupun masyarakat local tumpah ruah ke jalan mulai dari Shijo sampai Karasuma yang sengaja ditutup. Malam hari, lampion-lampion cantik itu dinyalakan, mengelilingi kapal yang berisi ‘harta karun’. Hmm, serunya lagi, penontonnya pada pakai yukata, semacam kimono untuk musim panas.
Puncak Gion Matsuri adalah Yamahoko-Junko yang diadakan pada 17 Juli, dari pukul 9.00 hingga siang hari. 32 kapal berparade sepanjang Shijo, Kawaramachi, dan jalan Oike. Dekorasi hoko yang cantik jadi penghibur penonton yang menonton di bawah sinar matahari yang terik. Saat prosesi ini, hoko juga membagi-bagikan chimaki, semacam jimat, yang dipercaya bisa mengusir keburukan dari rumah kita.


Masih pada 17 Juli, pukul 5 sore bawaan suci dipanggul oleh barisan laki-laki yang mendapat kehormatan membawa barang tersebut ke kuil. Prosesi ini dinamakan Shinko-Sai.
Pada 24 Juli, dalam prosesi yang dinamakan Hanagasa-Junko, tiga buah bawaan suci itu dikembalikan ke kuil. Akhirnya, pada 28 Juli, dalam prosesi yang dinamakan Mikoshi Arai, bawaan suci dibersihkan, sekaligus menandai berakhirnya Gion Matsuri.
Wah, panjang sekali ya alurnya. Hmm, festival di Indonesia pasti nggak kalah keren. Lain waktu, harus rasakan Jakarnaval, Solo Batik Carnival, Jember Carnival, atau Sekaten, ah!

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s