Berpuasa di Kyoto

Tanggal 2 November 2012 pagi, pesawat Malaysia Airlines yang saya dan anak-anak tumpangi mendarat di Kansai International Airport, Osaka, Jepang. Ya, kami meniatkan menemani si Abah yang menempuh studi doktoral di Graduate School of Global Studies, Doshisha University, Kyoto, Jepang. Suami saya, Abdul Hamid, sudah duluan datang di Jepang pada bulan September 2012. Rencananya kami akan menetap di mantan ibukota Jepang ini selama tiga tahun. Konsekuensinya, saya cuti di luar tanggungan negara sebagai pegawai negeri sipil di Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif.

Saat ini, sudah hampir sembilan bulan kami tinggal di Kyoto. Anak-anak sudah menyesuaikan diri dengan lingkungan sekitarnya. Si sulung duduk di kelas dua Sekolah Dasar publik dekat rumah. Tiap hari Aya, begitu dia biasa dipanggil, jalan kaki sekitar 5 menit menuju sekolah sambil menggendong randoseru (tas anak sekolah di Jepang) warna merah. Biaya sekolahnya gratis. Setiap hari dia sekolah mulai dari jam 08.40 sampai 14.50. Anak kedua, Ilham, tiap hari dibonceng dengan sepeda ontel ke Taman Kanak-Kanak (Youchien) yang juga tak jauh dari rumah. Setiap hari sekolah dari jam 09.00 sampai 14.00. Setiap pulang sekolah, mereka main di taman dekat rumah. Hmm, mereka makin langsing, lho, sejak tinggal di Jepang. Bagaimana tidak, biasanya di Indonesia mereka naik ojek ke sekolah, di sini mereka jalan kaki. Di Indonesia, materi olahraga paling sekali seminggu, sedangkan di Jepang bisa tiga kali seminggu. Belum lagi soal main di berbagai taman yang tersebar di penjuru kota. Tapi kalau soal matematika, jauh lebih susah di Indonesia (pantas kita stress eh maksudnya jadi juara Olimpiade Matematika, hehe).
Saya sendiri menyibukkan diri dengan kursus bahasa Jepang, mengajar bahasa Indonesia, dan ikut perkumpulan orang tua asing di Kyoto. Sesekali, saya diundang untuk menjelaskan ke warga lokal apa itu Indonesia, bagaimana sistem pendidikan di Indonesia, bahkan bercerita dongeng Indonesia. Senang sekali bisa bercerita tentang tanah air, lumayan bisa gratis promosi Indonesia. Maklum, pegawai Kementerian Pariwisata, hehe.
Tak hanya promosi tentang Indonesia, saya juga jadi “berdakwah” tentang Islam. Paling standar mereka akan bertanya mengapa harus pakai jilbab atau mengapa muslim tidak makan babi dan tidak minum alkohol. Biasanya selain merujuk pada Al-Qur’an, saya akan balas dengan bercanda. Misalnya kalau ditanya panas tidak pada jilbab, ya saya bilang aja di Indonesia lebih panas kok, dan tidak ada masalah. Atau kalau ditanya mengapa tidak makan babi, setelah menjelaskan bahwa babi itu diharamkan di Al-Qur’an, biasanya saya balas bercanda, “Padahal enak, ya, katanya? Duh, bisa makin jadi gendut dong saya.” Biasanya orang-orang Jepang itu akan tertawa kalau dibawa santai begitu.
Oya, saya juga berkumpul dengan orang Indonesia, biasanya lewat pengajian muslimah yang diadakan sebulan sekali. Nama pengajiannya Annisa Shalihah, konon sudah bertahun-tahun didirikan oleh para muslimah yang terlebih dulu tinggal di Kyoto. Tempat pengajiannya berganti-gantian di rumah para muslimah yang tersebar di seantero Kyoto. Muslimah Indonesia di Kyoto ada yang ikut suaminya sekolah atau bekerja di sini, ada pula yang sedang bersekolah. Banyak juga yang bersuamikan orang Jepang. Biasanya dalam pengajian ini, ada ceramah yang diisi kami-kami juga. Temanya macam-macam, pokoknya yang menyangkut keseharian kami sebagai muslimah di Jepang. Saya pernah berceramah tentang peran muslimah Indonesia di Jepang. Nah, yang paling seru dari pengajian ini, selain diskusi yang pasti seru, adalah makanan Indonesia yang ngangeni. Inilah ajang ibu-ibu menunjukkan kemampuan masaknya dan kesempatan para mahasiswi untuk makan gratis, hehe.

Ramadhan di Jepang
Hari ini hari ke-3 kami berpuasa di Jepang. Saat ini, Jepang sedang memasuki awal musim panas. Pertama-tama saya pikir, ah, seberapa panasnya, sih, dibanding Indonesia. Ternyata, panaaaas banget. Mirip-mirip panas di Surabaya atau Madura deh. Beberapa hari ini suhu siang hari di Kyoto bisa mencapai 37 derajat Celcius. Bedanya musim panas di Jepang dibanding Eropa misalnya, di sini selain panas, udaranya juga lembab. Kurang lebih mirip, lah, kayak di Indonesia. Apalagi Kyoto letaknya dikelilingi gunung-gunung, jadi udara panas kayak terperangkap di tengah kota. Sumuk banget. 
Selain sumuk, siang hari saat musim panas di Jepang juga lebih panjang dibanding di Indonesia. Ya, adzan Subuh di sini sekitar jam 3 pagi dan Maghrib sekitar jam 7 lewat seperempat. Bandingkan dengan Indonesia yang konstan Subuh sekitar jam 4-5 dan Maghrib jam 5-6an sore. Kalau puasa pas musim dingin sih enak, ya, bisa sahur jam 6 pagi terus buka jam 5 sore, hehe. Kebetulan tahun lalu saya sempat berpuasa di Belanda. Meskipun sahur jam 2 buka puasa jam 9 malam, tapi kayaknya lebih menyiksa di sini cuacanya. Hmm, pokoknya, benar-benar harus tahan iman dan tubuh, hehe. Bagaimana tidak, beberapa hari ini banyak warga Jepang yang tumbang dan dilarikan ke rumah sakit karena heat stroke. Anak-anak SD juga diwanti-wanti oleh gurunya untuk banyak minum dan menjaga kondisinya ketika olahraga atau ketika berada di luar ruangan.
Ngomong-ngomong soal anak SD, si Aya kan niat puasa penuh Ramadhan ini. Maklum, sudah dua tahun berturut-turut di Indonesia dia puasa penuh. Sampai dapat penghargaan di SDIT Insan Mandiri, Pasar Minggu. Sebelum Ramadhan tiba, saya sampaikan ke gurunya tentang puasa dan Ramadhan. Wah, sang guru, Yamamoto Sensei, kaget juga. Memang dia pernah dengar soal Ramadhan, tapi sepertinya baru kali ini bertemu dengan orang yang puasa beneran. Beneran ya bisa nggak makan dan minum dari sejak matahari terbit sama matahari terbenam? Wabil khusus, ini anak kecil. Sampai-sampai Yamamoto Sensei nyamperin ke rumah untuk ngobrol tentang rencana puasa si Aya. Dia bilang dia udah browsing soal Ramadhan dan puasa. Tapi dia khawatir kalau Aya puasa, ya takut tumbang di sekolah. Selain karena cuaca panas ekstrim, ada kisah di sekolah Aya, tahun lalu ada anak seumur Aya yang meninggal ketika berenang di kolam renang sekolah. Jadi saya paham betapa khawatirnya mereka. Saya bilang, memang anak-anak belum wajib untuk puasa. Ini semacam latihan buat mereka. Sebagai orang tua, saya dan suami memang tak pernah memaksa anak untuk puasa penuh juga. Cuma Alhamdulillah mereka dapat hidayah dari Allah, hehe. Saya sampaikan ke Bu Guru, silakan kalau ada jadwal olah raga atau berenang, Aya tidak usah puasa, dia boleh makan siang di sekolah. Tapi kalau tidak ada jadwal olah raga dan berenang, mohon pengertiannya agar Aya bisa puasa di sekolah. Sensei kelihatan lega melihat sikap saya. Dia malah menawarkan Aya mau dimana kalau berpuasa, ketika teman-teman makan siang, apakah mau di perpustakaan atau di klinik sekolah. Aya sih agak kecewa karena tidak bisa berpuasa setiap hari, tapi saya bilang toh minggu depan sudah mulai libur musim panas, jadi bisa bebas puasa selama libur.
Hmm, jangankan ke anak SD, orang Jepang juga masih heran kok kami yang orang dewasa ini bisa tidak makan selama kurang lebih dari 16 jam. Tidak haus? Tidak lapar? Tidak panas? Begitu pertanyaan standar mereka. Hehe ya pasti, lah, ya. Cuma ini salah satu kewajiban dalam Islam, begitu jawaban standar saya. Jawaban becandanya: kan sambil diet, detoksifikasi, hehe.
Nggak enaknya juga puasa jauh dari tanah air, tentu saja soal makanan dan suasana puasa. Pastinya, tidak ada jajanan kayak kolak, kolang-kaling, gorengan, pokoknya segala macam penganan yang bermunculan di jalanan menjelang buka puasa tiba. Jangankan sholat tarawih bareng dan tadarusan, azan saja tak pernah kami dengar di sini. Jadi, ya Ramadhan di sini, seperti hari biasa, tentu saja.
Oya, kata suami, ada sholat tarawih bareng di gedung Kyoto Muslim Community Association. Tapi karena azan Isya’-nya jam 9 lewat, kami memilih sholat berjamaah di rumah bersama anak-anak.
Kami mengkompensasi kerinduan akan suasana Ramadhan di Indonesia dengan selalu sholat berjamaah, dari Subuh hingga Isya’ dan tarawih, dan tadarus bareng. Suami juga terkadang memberikan ceramah singkat tentang nilai-nilai Islam. Ya, positifnya, kedekatan diantara keluarga inti kami memang semakin terbangun. Biarpun kami jauh dari suasana Ramadhan di masyarakat, paling tidak kami membangunnya di level keluarga.
Ah, ya, tentu saja yang paling ngangeni adalah soal makanan khas puasa. Soal ini, saya nyerah deh kalau disuruh bikin. Jadi, jangan posting makanan Indonesia yang juara itu di media sosial saat puasa, ya! 

Kyoto, 12 Juli 2013

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s